Jumat, 21 Juni 2013

Tahapan Berdzikir

TAHAP-TAHAP BERDZIKIR
Dalam upaya pendekatan diri kepada Allah, Selain
melaksanakan ibadah-ibadah yang diwajibkan , sebaiknya kita
juga melaksanakan ibadah-ibadah lain yang sunnah..
Diantaranya adalah ibadah sholat sunnah, memperbanyak
sodaqoh maupun memperbanyak dzikir kepada Allah swt.
Pada kesempatan ini kita akan bahas tentang dzikir. Secara
harfiah Dzikir berati ingat, tentu saja ingat kepada Allah swt.
Tujuan kita beribadah adalah untuk mengingat kepada Allah.
Karena sesungguhnya dzikir itu diperintahkan oleh Allah untuk
mengingat Dia ditiap ruang dan waktu. Ketika malam atau
siang, ketika kaya atau miskin, di waktu sehat atau sakit.
Singkatnya dalam keadaan apapun dan bagaimanapun, tidak
dibatasi uzur apapun.
Dzikir merupakan upaya untuk mensucikan hati kita, dari
kotoran-kotoran hati yang dengan sengaja atau tidak telah
kita corengkan kepadanya.
Proses Dzikir :
•  * Dzikir Lisan: dzikir ini diucapkan dengan lisan, ada yang
melaksanakannya dengan suara keras tapi ada yang lebih
suka dengan pelan-pelan.
•  * Dzikir Nafas: dalam melaksanakan dzikir ini pengucapan
bacaannya seiring dengan irama keluar-masuknya udara
dalam kita bernafas.
•  * Dzikir posisi: melaksanakan dzikir dalam posisi tertentu,
tidak bergerak sedikitpun, dalam jangka waktu tertentu pula.
•  * Dzikir qolbu atau hati: dalam dzikir qolbu bacaannya
dibaca dalam hati
•  * Dzikir Sirri atau rahasia: Proses dzikir yang satu ini
adalah sangat rahasia ketika dzikir ini dilaksanakan hanya
pedzikir dan yang dituju (Allah) saja yang tahu. Makhluk lain
tidak ada yang bisa mengetahuinya bahkan malaikatpun tidak
tahu.
Dalam melaksanakan dzikir-dzikir tersebut haruslah dibimbing
oleh Pembimbing yang telah mumpuni ( Mursyid, Guru, atau
istilah lain yang banyak sekali).
Dzikir Lisan
Dzikir yang dilakukan oleh lisan, diucapkan oleh mulut, yang
di suarakan baik dengan suara yang nyaring ataupun pelan.
Biasanya, yang di dzikir kan berupa bacaan yang intinya
permintaan maaf kepada Sang Khalik, dengan harapan untuk
mendapatkan Ampunan dari Allah. Ada juga bacaan yang
berupa pujian, mengagungkan asma Allah. Diantaranya:
Istighfar, subhanallah, Tasbih, Tahlil, tahmid dll.
Pada tahap yang paling awal sebaiknya memperbanyak
Istighfar yang dilaksanakan secara Dzikir lisan, dengan
harapan Allah berkenan mensucikan diri kita dari dosa-dosa
yang dilakukan oleh tubuh atau raga.
Sebab jika kita sejenak merenungkan diri akan apa yang telah
kita perbuat selama ini sejak tubuh ini dilahirkan sudah
berapa banyak dosa yang telah kita perbuat, baik kita
menyadarinya atau tidak. Maka membaca Istighfar secara
Dzikir Lisan sangat penting artinya, ini adalah tumpuan awal
melangkah untuk menempuh Jalan yang suci ini.
Adab berdzikir secara lisan,
Allah swt adalah Maha Mendengar, jadi ketika kita berdzikir
lebih baik dengan suara yang pelan saja. Tapi dengan
sungguh-sungguh.
Ketika melaksanakan Dzikir dianjurkan dalam keadaan suci
dari hadas besar maupun kecil. Serta suci dari najis.
Mengenai jumlah hitungan dalam berdzikir kepada Allah swt,
Memang Tidak ada salahnya kita menghitung-hitung
jumlahnya, sudah berapa banyak kita berdzikir kepada Allah,
tapi rasanya kok kurang pas. Alangkah baiknya jika kita tidak
disibukkan dalam menghitung-hitung jumlah dzikir, tapi lebih
sibuk dalam proses berdzikir.
Janganlah terpaku pada hitungan tapi perbanyaklah
sebanyak-banyaknya,. Berdzikir setiap saat, dimana saja,
kapan saja.
Cara berdzikir lisan dengan bacaan Istighfar.
Bila sudah terbebas dari hadas dan najis, kita mulai berdzikir,
membaca istighfar dengan pelan-pelan, jika biasa
menggunakan tasbih silakan aja, tapi disarankan untuk tidak
perlu menghitung jumlahnya, karena dapat mengurangi nilai
keikhlasan kita dalam berdzikir.
Dzikir Nafas
Maksud dari judul itu adalah Dzikir yang beriringan dengan
irama nafas, melaksanan dzikir ketika menghirup dan
menghembuskan nafas tanpa melambatkan atau mempercepat
irama nafas, jika hal ini dilanggar akibatnya sangat berbahaya
bagi tubuh.
Sebelum melaksanakan Dzikir Nafas harus benar-benar
menguasai Dzikir Lisan, jika Anda belum membaca Dzikir
Lisan sebaiknya Anda Membacaya dahulu sebelum
melanjutkan membaca artikel ini untuk menghindari salah
tafsir atau salah dalam memahami. Dzikir Lisan
Dalam melaksanakan Dzikir Nafas haruslah didampingi oleh
seorang Pembimbing, karena jika ada kesalahan sedikit saja
dapat langsung di konsultasikan agar tidak menjadi fatal, lebih
bagusnya secara tatap muka. Banyak sekali orang yang
tergelincir pada tahap ini gara-gara ia terlalu yakin akan
kemampuan dirinya..
Bacaan yang didzikirkan sangatlah beragam tergantung dari
tingkatan Salik yang bersangkutan. Jika belum tahu tentang
bacaannya cobalah bertanya kepada Guru/ Pembimbing/
Mursyid atau apalah Anda memanggilnya.
Pada tahap awal, dalam melaksanakan Dzikir Nafas,
sebaiknya dalam kondisi tubuh yang tenang, misalnya duduk,
atau tiduran, supaya konsentrasi Anda tidak terganggu.
Setelah terbiasa melaksanakannya, silakan saja berdzikir
sambil beraktifitas melakukan kegiatan lain. misalnya
berkendara atau bekerja.
Ketika Kita menghirup Udara bersamaan dengan itu kita
berdzikir kepada Allah, Oksigen yang kita hirup diserap oleh
paru-paru dan diikat oleh sel darah merah untuk dibawa ke
jantung dari jantung di alirkan ke seluruh tubuh, maka darah
dan seluruh anggota tubuhpun ikut berdzikir kepada Allah Ta
a’ala.
Jika menanyakan berapa pahala yang diperoleh ? sebagai
perbandingan adalah biasanya yang berdzikir secara lisan
adalah satu anggota tubuh, sedangkan ini adalah seluruh
Anggota tubuh ikut berdzikir kepada Allah, silakan hitung …
Sebenarnya tidaklah Etis mempersoalkan pahala. Di beri
pahala atau tidak kita seharusnya tetap beribadah kepada
Allah ….
Dzikir Kolbu
Setelah kita membahas Proses Berdzikir, Dzikir Lisan, Dzikir
Nafas Selanjutnya kita akan membahas tentang Dzikir Kolbu.
Pada tahap ini yang berdzikir adalah hati, atau kolbu. Supaya
kolbu lebih “hidup” dalam arti dapat merasakan Kehadiran
Illah, Robb.
Dalam menjalani Jalan yang Suci ini, kedudukan dzikir Kolbu
adalah sangat strategis karena pada tahap inilah kolbu benar-
benar dilatih dan dipersiapkan untuk menerima Pancaran Nur
Ilahi. Dan tentu saja untuk dipantulkan kembali, atas ijin Allah
Ta’ala. Di awali dengan dzikir lisan, dzikir nafas, baru
kemudian kita memasuki dzikir Kolbu. Ambil posisi yang
nyaman, duduk atau tiduran juga boleh, diusahakan dalam
melaksanakan nya untuk tidak bergerak sama sekali.
Kita dzikir lisan, kemudian Dzikir Nafas, perlahan-lahan
bacaan nya kita ucapkan dalam hati seiring dengan irama
nafas kita, jangan dipercepat ataupun diperlambat,
BERBAHAYA. Tidak ada batasan jumlah atau waktunya.
Sampai Kolbu merasakan sesuatu yang sangat berbeda.
Latihan ini dilakukan berulang-ulang selama kurun waktu
tertentu dan harus dengan panduan seorang Guru atau
Mursyid atau Pembimbing. Jika ada yang menyimpang atau
tidak sesuai dengan arah tujuan dapat dengan segera
diluruskan nya. Ingat satu hal Jika ada suara-suara yang
mengaku sebagai si A atau nabi atau wali A, JANGAN
PERCAYA karena itu pasti suara dari Iblis. Maka dari itu kita
harus didampingi seorang Pembimbing yang Benar.
Dzikir Kalbu menuju Dzikir Abadi
Orang-orang Islam yang selalu melanggengkan bershalawat
Kepada Nabi dan berdzikir kepada Allah swt, niscaya mereka
bertambah dekat kepada Allah dan Rasulullah-Nya, seperti
sabda Rosullullah:
“Orang yang paling utama bersamaku kelak pada hari kiamat
adalah mereka yang palig banyak membaca shalawat
untukku.”
Dan Rasulullah saw memperingatkan bilamana mereka tidak
berdzikir dan bershalawat di dalam kehidupannya, bahkan
melalaikan sholawat dan berdzikir, mereka akan merugi di hari
kiamat, sebagaimana sabda beliau Nabi Muhammad saw:
“Tidaklah sesuatu kaum duduk dalam suatu tempat dimana
mereka tidak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla serta
membaca shalawat kepada nabi saw. kecuali mereka
menyesal kelak pada hari kiamat.”
Adapun dzikir kalbu yang langgeng, yaitu dzikirnya para
malaikat yang selalu patuh kepada Allah swt. Dan selalu taat
melaksanakan tugasnya masing-masing.
Sedangkan manusia harus melalui latihan-latihan dalam
melaksanakan dzikir kepada Allah. Di saat latihan-latihan
berdzikir tentulah mengalami berbagai rintangan dan
hambatan tetapi harus dan tetap tabah, karena rintangan dan
hambatan itu sebagai cambuk semangat dalam melaksanakan
dzikir kepada Allah, dalam firman Allah dijelaskan disurat Al-
A’raf ayat 205-206:
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan
merendahkan diri dan rasa takut dan tidak mengeraskan
suara diwaktu pagi dan petang dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai
Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada disisi (Allah)
(Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan
mereka mentasbihkanNya dan hanya kepadaNyalah mereka
bersujud.
Dzikir abadi dimulai dari dzikir lisan atau dzikir nafas, bila
hatinya tergetar, sekecil apapun getaran di hati / kalbu lalu
dikembangkan ke seluruh anggota tubuh. Dan dilanjutkan
gerakan kalbu untuk berdzikir kolbu, suarakan kalbumu untuk
mengatakan; Allah, Allah, Allah…
Proses itu memerlukan waktu, mungkin hanya satu hari atau
dua hari, mungkin juga bisa berbulan-bulan, sampai Anda
mengalami pengalaman spiritual dalam dzikir posisi yang di
alam sana: memasuki tempat yang maha luas tak terlindungi
oleh naungan apapun, tempat itu terbuka amat luasnya terisi
oleh para jamaah, yang sedang berdzikir, tempat ini “ladang
para jamaah” nya orang-orang yang sedang berdzikir.
Kalau sudah memasuki alam itu berarti kita sudah terpaling
ke tempat jamaahNya dimana di dalam al Qur’an ditegaskan
disurat Al-Fajr ayat 27-30:
27. hai jiwa yang tenang.
28. kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas (ridlo)
lagi diridhaiNya.
30. maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu.
30. dan masuklah ke dalam surgaKu.
Alangkah bahagianya kalau kita sudah terpanggil, sepatutnya
kita dapat terpanggil seperti yang maksud dari ayat tersebut
diatas diterangkan.